Langsung ke konten utama

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hai, hallo.

Alhamdulillah kesampean juga nulis blog, hihi. Dari dulu pengen banget nulis blog, tapi bingung apa yang mau dibahas wkwk. Dan sekarang, gue udah tau mau bahas apa. Di postingan pertama ini, gue pengen cerita pengalaman gue sepulang kerja yang Insyaa Allah kalo ada kejadian yang gue rasa ada manfaatnya, gue bakal bikin postingan dengan tema pulang kerja lagi.

Oke. Pulang kerja hari ini ada kejadian yang bikin gue mikir dan terpukau. *lebay.
Gue kerja di daerah Melawai, Kebayoran Baru. Rumah gue di Cipinang, Jatinegara. Timur ke Selatan. Cukup jauh kan ya? Makanya kalo gue pulang on time jam 5 sore, nyampe rumahnya tuh sekitar jam 8an, dan pastinya ga sempet solat maghrib. Maka dari itu, gue memutuskan untuk solat maghrib dulu sebelum pulang.

Gue solat di Masjid Nurul Iman Blok M Square. Letak masjidnya di rooftop gedung mall. Gede, nyaman, di halamannya ada miniatur ka'bah yang biasanya buat manasik haji. Hari ini ternyata ada kajian. Biasanya disana kalo ada kajian shaff akhwat yang paling depan di taruh proyektor dan ada layar di depan proyektornya buat nampilin muka ustadznya. Proyektor di pasang sebelum solat maghrib, jarak dari tempat proyektor ke layar diatur sedemikian rupa oleh marbot masjid supaya pas dan enak dilihat sampe ke belakang. Nah, makanya ga boleh kegeser dong, biar posisinya ga berubah?

Jamaah akhwat yang sudah biasa ikut kajian disana pasti udah tau kalo shaff pertama itu buat proyektor, dan biar gak geser2 itu proyektor, shaffnya dimundurin. Singkat cerita, ternyata banyak yg gatau tentang hal itu. Karena gak semua orang biasa solat disana. Banyak yg ngambil shaff sejajar dengan proyektor. Ditegurlah orang2 itu, terus mereka ikutan mundur. 

Tapi, ada satu orang, mbak-mbak, yang gak mau mundur. Waktu disuruh "mba mundur aja" dia bilang "gak mau. Saya mau di depan. Kalian aja yang ke depan. Lagian masih kosong disini." begitulah kira-kira kata-katanya. Yaiyalah masing kosong, orang sengaja dikosongin. Hm. Gue yang disitu udah diri dibelakangnya, tinggal Allahu Akbar heran sekaligus kesel dong. 'loh, ada ya orang kayak gini. Padahal mau solat, tapi sempet-sempetnya ngajak ribut.' tapi itu bukan yang paling mengherankan. yang bikin gue heran banget, jamaah yang tadi negur si mbak itu langsung maju ke depan buat gabung dengan shaff si mbak dan diikuti semua yg sebaris sama dia. Proyektorpun jadi di geser. 

Terus gue mikir 'wah, keren banget ya.' Islam itu mengajarkan untuk menghindari keributan, makanya orang - orang yang ngerti memilih untuk mengalah dan malah menuruti si mbak - mbak itu. Gue ngerasa bakal ada keributan. Tapi ternyata engga. Ternyata yang banyak lebih milih mengalah dan mengikuti satu orang itu. Padahal bisa aja mereka sama-sama gamau pindah. Tetap di pilihan masing-masing. Tapi, jamaah yg banyak ini memilih untuk mengalah, karena tau dalam solat itu harus merapatkan dan meluruskan barisan. Yang masih bikin mikir sih pas si mbak yg dengan egoisnya gamau disuruh mundur, gaada yg bales. Mereka langsung gerak maju ke depan. Masyaa Allah.

Yah.. segitu dulu cerita gue.

Mohon maaf kalo bahasanya acak - acakan dan gak jelas. Kalo ada yang mau hujat silakan ko. Kritik dan saran kalian sangat gue butuhkan, huhu.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Selanjutnya

 Aku memilih untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku rasa aku sudah cukup meminta pertolongan kepada orang lain. Ah, bukannya aku mengharapkan pertolongan orang lain. Tapi katanya sebelum pasrah, harus berusaha dulu kan? Bisa dibilang, itu bentuk usahaku. Mungkin keputusan ini akan menimbulkan banyak perbedaan pendapat maupun pertentangan. Mungkin akan ada orang - orang yang sedikit terluka. Tapi aku ingin menyelamatkan diriku. Kurasa sudah cukup untuk bertahan. Aku tidak bisa membiarkan diriku terus - terusan terluka. Biarlah orang menganggap lemah, mudah menyerah, mudah putus asa. Tapi aku tahu, aku tidak seperti itu. Daripada aku kehilangan diriku, lebih baik kehilangan beberapa orang bukan? Yang penting prosesnya sesuai dengan aturan.  Aku berusaha mengikuti aturan yang berlaku. Mudah - mudahan Allah berikan kemudahan dan kelancaran dalam proses ini. Dan mudah - mudahan pula, akan ada jalan yang lebih baik yang menunggu di depan sana. Aamiin.

Memeluk

 "Harusnya dari kemaren-kemaren kayak gini." "Iya ya." "Ck, malah buang-buang waktu. Mana uang udah habis." "Iya, iya." "Ko iya iya doang sih?!" "Yaa abis mau gimana lagi. Waktu yang udah terlewat kan gak bisa diulang." "Ya makanya! Harusnya kemarin tuh jangan males-malesan gak jelas." "Ada yang dikerjain juga ko kemarin tuh." "Tapi gak ada hasilnya!" "Emang mau hasil kayak gimana?" "Kalo ada hasilnya, kita gak bakal kesusahan sekarang!" "Iya, ya. Maaf ya.." Kali ini, kupeluk dia. "Ih apaan sih! Geli tau!" "Iya, iya. Emang aku banyak salahnya. Banyak waktu yang kebuang. Maaf ya.." *mendengus* "Tapi masih mau berusaha lagi kan? Sama-sama?" Kukira dia akan berontak ketika kupeluk, tapi ternyata dia begitu tenang dalam pelukanku. "Asal jangan mengulangi kesalahan yang sama!" Katanya dengan nada merajuk. "Hehe. Diusahakan....

Sakit

"Jangan sedih." Katanya. Tapi tangisku malah menjadi-jadi. "Kenapa nggak boleh sedih?! Nabi juga bisa sedih ko! Kenapa diciptain rasa sedih kalo nggak boleh sedih?!" Protesku. "Ya jangan lama-lama sedihnya!" Katanya. Ah, ini tambah menyakitkan. Padahal belum ada satu jam berlalu saat aku mulai meraung-raung. Aku nggak bisa berkata-kata lagi.