Langsung ke konten utama

Bertaut

Kita adalah dua orang panik yang tidak tau cara menenangkan satu sama lain.
Kita sering memberi dan menerima terima kasih, hanya untuk saling menghargai


Kita sering saling mengecewakan, namun lebih memilih untuk menghibur daripada meminta maaf.
Mungkin kita sering meminta maaf pada satu sama lain dalam hati, tapi terlalu sulit untuk menyuarakannya.


Kita kehilangan hal yang sama, tapi kita enggan membahas dan menjadikannya bermakna.
Kita sama-sama terluka, tapi memilih untuk tidak menganggapnya seberapa.
Kita mewarisi luka, namun enggan mengakui, apalagi memeluknya.


Kita pernah saling bertaut, sembilan bulan lamanya, tetapi kita sangat payah dalam memahami satu sama lain.
Meski begitu, kita tetap berusaha saling memahami.
Kita tetap berusaha tetap bertaut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Selanjutnya

 Aku memilih untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku rasa aku sudah cukup meminta pertolongan kepada orang lain. Ah, bukannya aku mengharapkan pertolongan orang lain. Tapi katanya sebelum pasrah, harus berusaha dulu kan? Bisa dibilang, itu bentuk usahaku. Mungkin keputusan ini akan menimbulkan banyak perbedaan pendapat maupun pertentangan. Mungkin akan ada orang - orang yang sedikit terluka. Tapi aku ingin menyelamatkan diriku. Kurasa sudah cukup untuk bertahan. Aku tidak bisa membiarkan diriku terus - terusan terluka. Biarlah orang menganggap lemah, mudah menyerah, mudah putus asa. Tapi aku tahu, aku tidak seperti itu. Daripada aku kehilangan diriku, lebih baik kehilangan beberapa orang bukan? Yang penting prosesnya sesuai dengan aturan.  Aku berusaha mengikuti aturan yang berlaku. Mudah - mudahan Allah berikan kemudahan dan kelancaran dalam proses ini. Dan mudah - mudahan pula, akan ada jalan yang lebih baik yang menunggu di depan sana. Aamiin.

Memeluk

 "Harusnya dari kemaren-kemaren kayak gini." "Iya ya." "Ck, malah buang-buang waktu. Mana uang udah habis." "Iya, iya." "Ko iya iya doang sih?!" "Yaa abis mau gimana lagi. Waktu yang udah terlewat kan gak bisa diulang." "Ya makanya! Harusnya kemarin tuh jangan males-malesan gak jelas." "Ada yang dikerjain juga ko kemarin tuh." "Tapi gak ada hasilnya!" "Emang mau hasil kayak gimana?" "Kalo ada hasilnya, kita gak bakal kesusahan sekarang!" "Iya, ya. Maaf ya.." Kali ini, kupeluk dia. "Ih apaan sih! Geli tau!" "Iya, iya. Emang aku banyak salahnya. Banyak waktu yang kebuang. Maaf ya.." *mendengus* "Tapi masih mau berusaha lagi kan? Sama-sama?" Kukira dia akan berontak ketika kupeluk, tapi ternyata dia begitu tenang dalam pelukanku. "Asal jangan mengulangi kesalahan yang sama!" Katanya dengan nada merajuk. "Hehe. Diusahakan....

Sakit

"Jangan sedih." Katanya. Tapi tangisku malah menjadi-jadi. "Kenapa nggak boleh sedih?! Nabi juga bisa sedih ko! Kenapa diciptain rasa sedih kalo nggak boleh sedih?!" Protesku. "Ya jangan lama-lama sedihnya!" Katanya. Ah, ini tambah menyakitkan. Padahal belum ada satu jam berlalu saat aku mulai meraung-raung. Aku nggak bisa berkata-kata lagi.